ASPEK MAKNA UJARAN
oleh : AZIZ SAPRUDIN
PENDAHULUAN
Bahasa merupakan sistem komunikasi yang amat
penting bagi manusia. Sebagai suatu unsur yang dinamik, bahasa senantiasa
dianalisis dan dikaji dengan menggunakan berbagai pendekatan untuk mengkajinya.
Antara pendekatan yang dapat digunakan untuk mengkaji bahasa ialah pendekatan
makna. Semantik merupakan salah satu bidang yang mempelajari tentang makna.[1]
Semantik dengan objeknya yakni makna, berada di
seluruh atau semua tataran yang bangun membangun ini : makna berada di dalam
tataran fonologi, morfologi dan sintaksis. Oleh karena itu penamaan tataran
untuk semantik agak kurang tapat, sebab semantik bukan satu tataran dalam arti
unsur pembangun satuan lain yang lebih besar melainkan merupakan unsur yang
berada semua tataran itu.
Berbahasa itu adalah proses menyaampaikan makna
oleh penutur kepada pendengar melalui satu atau serangkaian ujaran. Suatu
proses berbahasa dikatakan berjalan baik apabila makna yang dikirimkan penutur
dapat diresepsi oleh pendengar persis seperti yang dimaksudkan oleh si penutur.
Sebaliknya, suatu proses berbahasa dikatakan berjalan dengan baik apabila makna
yang dikirim penutur diresepsi atau dipahami pendengar tidak sesuai dengan yang
dikehendaki penutur. Ketidaksesuaian ini bisa disebabkan oleh faktor penutur
yang kurang pandai dalam memproduksi ujaran, bisa juga disebabkan oleh faktor
pendengar yang kurang mampu meresepsi ujaran itu, atau biasa juga akibat bisa
juga akibat faktor lingkungan sewaktu ujaran itu ditransfer dari mulut penutur
ke dalam telinga pendengar.
Jadi suatu ujaran dapat dipahami dengan baik
oleh pendengar apabila penutur dapat membuat enkode semantik, enkode gramatika,
dan enkode fonologi dengan baik, dan sebaliknya pihak pendengar dapat mendekode
fonologi, mendekode gramatika, dan mendekode semantik dari ujaran yang
dikirimkan penutur itu dengan baik juga. Disamping itu lingkungan tempat ujaran
itu juga berlangsung secara kondusif.
Oleh karena itu, dalam makalah ini penulis akan
membahas tentang:
1. Apakah hakikat dari makna itu ?
2. Apa yang dimaksud dengan makna leksikal itu dan bagaimana makna
tersebut dalam ujaran ?
3. Apa yang dimaksud dengan makna gramatikal itu dan bagaimana makna
tersebut dalam ujaran ?
4. Apa yang dimaksud dengan makna kontekstual itu dan bagaimana makna
tersebut dalam ujaran ?
5. Apa yang dimaksud dengan makna kohesi dan koherensi itu dan
bagaimana makna tersebut dalam ujaran ?
ASPEK MAKNA UJARAN
A. Hakikat Makna Ujaran
Arti atau makna adalah hubungan antara tanda berupa
lambang bunyi-ujaran dengan hal atau yang dimaksudkan. [2]
Menurut Ferdinand de Saussure setiap tanda
linguistik atau tanda bahasa terdiri dari dua komponen yaitu signifian “yang
mengartikan” dan signifie “yang diartikan”. Jadi makna adalah pengertian atau
konsep yang dimiliki atau terdapat pada tanda linguistik. Tanda linguistik bisa
berupa kata atau leksem maupun morfem. Banyak pakar juga menyebutkan bahwa
makna sebuah kata dapat ditentukan apabila kata itu sudah berada dalam konteks
kalimatnya, wacananya dan situasinya. Karena bahasa itu bersifat arbitrer.[3]
Berbicara tentang makna, pertama perlu diingat
adanya dua bidang kajian tentang makna, yaitu semantik atau semiotik. Kedua
bidang kajian ini sama-sama meneliti atau mengkaji tentang makna. Bedanya,
semantik khusus mengkaji makna bahasa sebagai alat komunikasi verbal manusia,
sedangkan semiotik mengkaji semua makna yang ada dalam kehidupan manusia,
seperti makna-makna yang dikandung oleh berbagai tanda dan lambang serta
isyarat lainnya. Kemudian karena bahasa sebenarnya juga tidak lain daripada
salah satu sistem lambang, maka semantik bisa dikatakan juga termasuk atau
menjadi bagian dari kajian semiotik.
Dalam praktek berbahasa ternyata juga makna
suatu ujaran tidak bisa dipahami hanya dari kajian semantik, tetapi juga harus
dibantu oleh dan anggota tubuh serta mimik, dan sebagainya. kajian semiotik,
seperti pemahaman mengenai gerak-gerik tubuh dan anggota tubuh serta mimik dan
sebagainya.
Verhaar (1978) yang mendasarkan teorinya pada
teori signe’ linguitique dari Ferdinand de
Saussure (1916) menyatakan bahwa makna adalah gejala internal bahasa. Teori
verhaar mengenai makna yang semata-mata berdasarkan gejala internal bahasa
memang bisa di terima. Namun, makna bahasa sebagai alat komunikasi sosial
verbal banyak tergantung pada faktor-faktor lain di luar bahasa. [4]
Jadi, makna adalah gejala-gejala yang tidak
hanya terdapat pada internal bahasa, tetapi juga terdapat pada eksternal
bahasa.
B. Makna Leksikal
Makna leksikal adalah makna sebenarnya makna
yang sesuai dengan hasil observasi kita, makna apa adanya atau makna yang ada
dalam kamus.[5]
Makna leksikal, yakni makna kata berdasarkan
kamus. Makna ini terdapat pada kata-kata yang belum mengalami proses perubahan
bentuk.
Jadi, makna leksikal ialah makna kata secara
lepas, tanpa kaitan dengan kata yang lainnya dalam sebuah struktur (frase
klausa atau kalimat). Contoh: Rumah: bangunan untuk tempat tinggal manusia.
Makan: mengunyah dan menelan sesuatu. Makanan: segala sesuatu yang boleh
dimakan, dan lain-lain.
Tahap pertama untuk bisa meresapi makna suatu
ujaran adalah memahami makna leksikal setiap butir leksikal (kata, leksem) yang
digunakan dalam ujaran itu. Andaikata kita tidak tahu makna leksikal sebuah
kata yang digunakan di dalam suatu ujaran kita bisa melihatnya di dalam kamus
atau bertanya kepada orang lain yang tahu. Namun persoalnnya tidak sesederhana
itu, sebab ada sejumlah kasus di dalam studi semantik yang menyangkut makna
leksikal itu. Kasus-kasus itu adalah:
1. Kasus kesinoniman
Sinonim adalah hubungan semantik yang menyatakan
adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran lainnya.[6]
Kasus kesinoniman ini bisa menjadi masalah dalam
meresepsi makna dalam suatu ujaran, karena seperti kata Verhaar
(1978;Chaer;1990) dua buah kata yang bersinonim maknanya hanya kurang lebih
sama, tetapi tidak persis sama.
Contoh : kata “bapak” dengan “ayah”.
a.
“Bapak” si Amin baru pulang dari Medan.
b.
“Selamat pagi Bapak Lurah !” seru anak itu.
Pada kalimat (a) kata “Bapak” dapat di
pertukarkan dengan “Ayah”, sedangkan pada kalimat (b) kata “Bapak” tidak dapat
di pertukarkan dengan “Ayah”. Hal ini membuktikan bahwa kata bapak dan ayah
yang disebut bersinonim atau mempunyai kesamaan makna ternyata tidak selalu
dapat di pertukarkan.
Dua buah ujaran yang bersinonim maknanya tidak
akan persis sama, walaupun perbedaannya hanya sedikit. Itu terjadi karena
beberapa faktor, antara lain:
a. Faktor waktu (temporal), misal hulubalang dengan komandan adalah
dua buah kata yang bersinonim. Namun keduanya tidak bisa di pertukarkan begitu
saja, sebab kata hulubalang hanya cocok untuk konteks arkais atau klasik sedang
kata komandan untuk masa sekarang.
b. Faktor tempat, misal saya dengan beta adalah dua buah kata yang
bersinonim. Namun kalau kata saya bisa digunakan di daerah mana saja di seluruh
Indonesia, tetapi kata beta hanya cocok digunakan di wilayah atau dalam konteks
Indonesia bagian timur.
c. Faktor sosial, misal saya dengan aku adalah dua buah kata yang
bersinonim. Namun kalau kata saya bisa digunakan oleh siapa saja terhadap siapa
saja, sedangkan kata aku hanya dapat digunakan terhadap lawan bicara yang lebih
muda atau kedudukan sosialnya lebih rendah.
d. Faktor bidang kegiatan, misal matahari dengan surya adalah
sinonim. Namun matahari dapat di gunakan dalam apa saja sedangkan kata surya
hanya biasa di gunakan dalam bidang sastra.
e. Faktor nuansa makna (fitur semantik), misal melihat, melirik,
menonton, meninjau, dan mengintip adalah lima buah kata yang bersinonim. Kalau
kata melihat bisa di gunakan untuk menggantikan ke empat kata lainnya sedangkan
ke empat kata tersebut tidak bisa menggantikan kata melihat.[7]
2. Kasus keantoniman
Antonim adalah hubungan semantik antara dua buah
satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan, pertentangan, atau kontras
antara yang satu dengan yang lain. Dilihat dari sifat hubungannya, maka
antonimi itu dapat dibedakan beberapa jenis, antara lain:
a. Antonimi yang bersifat mutlak, yaitu keantoniman antara dua buah
kata atau leksem yang maknanya saling meniadakan. Misalnya hidup dengan mati,
sesuatu yang masih hidup tentu “belum mati” dan sesuatu yang sudah mati tentu
sudah “tidak hidup” lagi.
b. Antonimi yang bersifat relatif atau bergradasi, yaitu keantoniman
antara dua buah kata atau leksem yang pertentangan maknanya bersifat relatif,
tidak mutlak. Misal besar dengan kecil. Umumnya kata yang berantonim relatif
ini adalah dua buah kata dari kategori ajektifa. Oleh karena itu, dalam suatu
ujaran sesuatu yang murah bagi penutur bisa di tafsirkan tidak murah bagi
pendengar, begitu juga sesuatu yang besar bagi penutur bisa di tafsirkan kecil
bagi pendengar.
c. Antonimi yang bersifat relasional. Yaitu keantoniman antara dua
buah kata atau leksem yang maknanya saling melengkapi Misal, suami dengan istri.
d. Antonimi yang bersifat hierarkial. Yaitu keantoniman antara dua
buah kata atau leksem yang maknanya menyatakan jenjang, urutan dari ukuran,
nilai, timbangan atau kepangkatan Misal, gram dengan kilogram.
e. Antonim ganda. Yaitu kentoniman antara dua buah kata atau leksem
yang dengan pasangan yang lebih dari satu. Misalnya kata diam bisa berantonim
dengan kata bergerak, bicara, bekerja.[8]
3. Kasus kehomonimian
Homonimi adalah dua buah kata atau satuan ujaran
yang bentuknya sama; maknanya tentu saja berbeda. Misal, bisa “racun” dengan
bisa “sanggup”
Pada homonimi adalah adanya kesamaan bunyi (fon)
antara dua satuan ujaran tanpa memperhatikan ejaannya. Misal, bisa “racun”
dengan bisa “sanggup”.
Dalam bahasa tulis, ada istilah homograf yang di
gunakan untuk menyebutkan kata yang tulisan sama, lafal beda dan maknanya pun
berbeda. Contoh : 1. Apel : buah
2. Apél : rapat, pertemuan, 1.tahu: makanan, 2. tahu :mengetahui (bacaannya
tau)
Istilah homografi sering dikotomikan dengan
istilah homofon, yakni . Adalah dua kata yang mempunyai kesamaan
bunyi tanpa memperhatikan ejaanya, dengan makna yang berbeda. Contoh : 1.
Bang : sebutan saudara laki-laki, 2. Bank : tempat penyimpanan dan pengkreditan
uang [9]
.kata-kata yang berhomofon akan menimbulkan
kesalahpahaman bagi pendengar kalau penutur kurang hati-hati dalam
mempresentasikan ejaannya secara lisan. Sedangkan kata-kata yang berhomograf
juga bisa menimbulkan kesalahpahaman bagi pendengar kalau penutur kurang
hati-hati dalam memprentasikan ujarannya dalam bentuk bahasa tulis.[10]
4. Kasus kehiponiman dan kehiperniman
Hiponim adalah sebuah bentuk ujaran yang
mencakup dalam makna bentuk ujaran lain. Hipernim adalah bagian dari hiponim.
Contoh : Hiponim : buah-buahan, sedangkan hipernim dari buah-buahan misalnya
anggur, apel, jeruk, dan lain-lain.. .
Untuk lebih jelasnya, perhatikan tabel berikut!
|
Bentuk
Pertalian |
Penulisan |
Pengucapan |
Makna |
|
Sinonim |
Berbeda |
berbeda |
sama,
hampir sama |
|
Antonim |
Berbeda |
berbeda |
berbeda,
berlawanan |
|
Homonim |
Sama |
sama |
berbeda |
|
Homograf |
Sama |
berbeda |
berbeda |
|
Homofon |
Berbeda |
sama |
berbeda[11] |
C. Makna Gramatikal
Makna gramatikal baru ada kalau terjadi proses
gramatikal seperti afikasi, reduplikasi, komposisi atau kalimatisasi. Umpamanya
dalam proses afikasi prefiks ber- dengan dasar baju melahirkan makna gramatikal
“memakai baju”. [12] Tampaknya
makna-makna gramatikal yang dihasilkan oleh proses gramatikal ini berkaitan
erat dengan fitur makna yang dimiliki setiap butir leksikal dasar.
a. Fitur Makna
Makna setiap butir leksikal dapat dianalisis
atas fitur-fitur makna yang membentuk makna keseluruhan butir leksikal itu
seutuhnya. Misalnya
|
Fitur
makna |
Boy |
Man |
Girl |
Woman |
|
1.
Manusia 2.
Dewasa 3.
Laki-laki |
+ - + |
+ + + |
+ - - |
+ + - |
Jadi, dari bagan diatas bisa diambil kesimpulan
dari salah satu contoh kata Boy, memiliki fitur makna (+ manusia), )- dewasa),
(+ laki-laki)
Analisis fitur semantik ini yang berasal dari
kajian Roman Jackobson dan Morris Helle (1953) mengenai bunyi bahasa Inggris,
dimanfaatkan oleh Chomsky untuk membedakan ciri-ciri lexical item dalam daftar
leksikonny, seperti:
|
Fitur |
Boy |
Dog |
Chair |
Rice |
|
1.
Nomina 2.
Insan 3.
Terhitung 4.
Konkret 5.
Bernyawa |
+ + + + + |
+ - + + + |
+ - - + - |
+ - - - -[13] |
b. Makna Gramatikal Afiksasi
Afiksasi adalah pembubuhan afiks pada bentuk
dasar. Dalam bahasa Indonesia afiksasi merupakan salah satu proses penting
dalam pembentukan kata dan penyampaian makna. Jenis afiks dan makna gramatikal
yang dihasilkan cukup banyak dan beragam. Satu hal yang jelas makna afiks yang
dihasilkan mempunyai kaitan dengan fitur semantik. Misalnya pada bentuk kata
dasar yang berfitur semantik (+kendaraan) akan melahirkan makna gramatikal “mengendarai”,
“naik”, “menumpang”.
c. Makna Gramatikal Reduplikasi
Reduplikasi juga merupakan satu proses
gramatikal dalam pembentukan kata. Secara umum makna gramatikal yang
dimunculkannya adalah menyatakan “pluralis” atau “intensitas”. Misalnya kata
rumah direduplikasikan menjadi rumah-rumah bermakna gramatikal banyak rumah,
dan lain-lain. Namun, makna gramatikal reduplikasi ini tampaknya tidak bisa
ditafsirkan pada tingkat marfologi saja, melainkan baru bisa ditafsirkan pada
tingkat gramatikal yang lebih tinggi yaitu sintaksis. Misalnya makna kata
“lebar-lebar” pada kalimat-kalimat berikut:
- Bukalah pintu itu lebar-lebar!
- Daunnya sudah lebar-lebar, tetapi belum dipetik
- Kumpulkan kertas yang lebar-lebar itu disini
Kata lebar-lebar kalimat pertama bermakna
“selebar mungkin”, pada kalimat kedua bermakna “banyak yang lebar”, sedangkan
kalimat yang ketiga bermakna “hanya yang lebar saja”.
d. Makna Gramatikal Komposisi
Butir leksikal dalam setiap bahasa, termasuk
bahasa Indonesia, adalah terbatas, padalah konsep-konsep yang berkembang dalam
kehidupan manusia akan selalu bertambah. Oleh karena itu selain proses
afiksasi dan proses reduplikasi, banyak juga dilakukan proses komposisi
untuk menampung konsep-konsep yang baru muncul itu, atau yang belum ada kosakatanya.
Contoh kata sate yang bermakna leksikal daging yang dipanggang dan diberi
bumbu, ada kita dapati gabungan kata sate kambing, sate ayam, sate madurra
dan sate padang.
Dari makna gramatikal yang kita lihat dari
contoh komposisi dengan kata sate itu, tampak bahwa makna gramatikal yang
muncul dari gabungan kata itu, sangat berkaitan dengan fitur semantik yang
dimiliki oleh butir leksikal yang digabungkan dengan kata sate itu.Kata atau
butir leksikal kambing dan ayam sama-sama memiliki fitur semantik (+hewan),(+daging),(+bahan
(makanan)), maka fitur (+bahan (makanan)) ini melahirkan makna gramatikal sate
kambing dan ayam “bahan”, dll.
Penutur (asli) suatu bahasa tidak perlu secara
khusus mempelajari dulu fitur-fitur semantik kosakata yang ada di dalam bahasanya
untuk dapat membuat gabungan kata, sebab fitur-fitur semantik itu sudah turut
ternuranikan sewaktu dia dalam proses pememrolehan bahasanya.
e. Kasus Kepolisemian
Sebuah kata atau ujaran disebut polisemi kalau
kata itu mempunyai makna lebih dari satu. Dalam kasus polisemi, biasanya makna
pertama adalah makna sebenarnya, yang lain adalah makna yang dikembangkan.
Contoh:
a. Kepalanya luka kena pecahan kaca.
b. Kepala surat biasanya berisi nama dan alamat kantor.
c. Kepala kantor itu paman saya.
d. Kepala jarum itu terbuat dari plastic.
Makna pertama kata kepala adalah makna
denotatif, sedangkan makna-makna berikutnya tidak bisa dipahami tanpa konteks
sintaksisnya.
Dalam proses pemerolehan semantik makna polisemi
ini dikuasai setelah menguasai makna leksikal. Suatu ujaran yang mengandung
kata atau kata-kata yang bermakna polisemi tentu akan dipahami secara salah
oleh pendengar yang belum tahu akan makna polisemi dari kata atau kata-kata
itu. Misalnya: Dulu ketika di TK seorang anak terheran-heran mendengar bait
lagu “Naik Delman” yang berbunyi “Naik delman istimewa ku duduk di muka” Di
rumah sepulang sekolah dia bertanya pada ibunya, “Ma kok muka diduduki sih?.
Disisni tampak bahwa anak tersebut baru menguasai makna leksikal kata muka.
Yaitu bagian kepala sebelah depan tempat adanya mulut, hidung dan mata. Dia
belum mengerti makna polisemi bahwa muka juga memilki makna “depan”[14]
D. Makna Kontekstual
Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem
atau kata yang berada di dalam satu konteks. Contoh: Rambut di kepala
nenek belum ada yang putih
Sebagai kepala sekolah dia sudah berwibawa
Memahami makna leksikal dan gramatikal saja
belum cukup untuk dapat memahami makna suatu ujaran, sebab untuk memahami makna
suatu ujaran harus pula diketahui konteks dan tempat dari terjadinya ujaran
itu. Konteks ujaran itu dapat berupa konteks intrakalimat, antarkalimat, bidang
ujaran atau situasi ujaran.
a. Konteks intrakalimat
Makna sebuah kata tergantung pada kedudukannya
di dalam kalimat, baik menurut letak posisinya di dalam kalimat maupun menurut
kata-kata lain yang berada di depan maupun di belakangnya. Contoh : makna kata
jatuh dalam kalimat sebagai berikut
Ø Kakak jatuh cinta pada
gadis itu
Ø Kakak jatuh dari pohon jambu
Makna kata jatuh di atas berbeda. Makna jatuh
pada contoh pertama “menjadi cinta”. Pada contoh kedua bermakna “terlempar ke
bawah”.
b. Konteks antarkalimat
Ujaran dalam bentuk kalimat yang baru bisa di
pahami maknanya berdasarkan hubungannya dengan makna kalimat sebelum atau
sesudahnya. Contoh :
1. Meskipun persiapan telah di lakukan dengan seksama, tetapi operasi itu
tidak jadi di lakukan. Menurut keterangan tim medis hal itu karena tiba-tiba si
pasien mengalami komplikasi.
2. Meskipun persiapan telah di lakukan dengan seksama, tetapi operasi
tidak jadi di lakukan. Hal ini karena rencana operasi itu telah bocor, sehingga
tak sebuah becak pun yang keluar.
Makna kata operasi yang pertama
“pembedahan”sedangkan yang kedua bermakna “penertiban”. Kedua makna tersebut di
pahami adalah karena kalimat yang mengikutinya.
c. Konteks situasi
Maksudnya adalah kapan, dimana, dan suasana apa
ujaran itu di ucapkan. Contoh : “sudah hampir pukul dua belas
Akan berbeda makna bila di ucapkan oleh ibu
asrama putri pada malam hari yang di tujukan pada seorang pemuda yang masih
bertamu dengan yang di ucapkan oleh seorang ustad pondok pesantren pada siang
hari pada santrinya.[15]
E. Makna Kohesi dan Koherensi
Dalam istilah kohesi tersirat pengertian
kepaduan dan keutuhan. Adapun dalam koherensi tersirat pengertian pertalian
atau hubungan. Bila dikaitkan dengan aspek bentuk dan aspek makna bahasa, maka
kohesi merupakan aspek formal bahasa, sedangkan koherensi merupakan aspek
ujaran (speech) (Henry Guntur Tarigan, 1987: 96).
a. Kohesi
Menurut Fatimah Djajasudarma (1994 : 456) kohesi
merujuk pada perpautan bentuk, sedangkan koherensi merujuk pada perpautan
makna.[16] .
Kohesi
atau kepaduan wacana banyak melibatkan aspek gramatikal dan aspek leksikal.
Sehingga penanda yang digunakan untuk mencapai kepaduan sebuah wacana juga
meliputi kedua aspek tersebut. Penanda yang dipakai untuk menandai kohesif
setidaknya suatu wacana, meliputi: pronomina, substitusi, elipsis, konjugasi,
dan leksikal (Halliday dan Hasan dalam Tarigan, 1987: 97).
Penanda
yang digunakan untuk mencapai kekohesifan wacana ialah sebagai berikut :
(1)
Pronomina, disebut juga kata ganti. Dalam bahasa Indonesia kata ganti terdiri
dari kata ganti diri, kata ganti petunjuk, kata ganti empunya, kata ganti
penanya, kata ganti penghubung, dan kata ganti taktentu.
a.
Kata ganti diri, dalam bahasa Indonesia meliputi: saya, aku, kami, kita,
engkau, kau, kamu. Kalian, anda, dia, dan mereka.
b.
Kata ganti petunjuk, dalam bahasa Indonesia meliputi: ini, itu, sini, sana, di
sini, di sana, di situ, ke sini, dan ke sana.
c.
Kata ganti penanya, dalam bahasa Indonesia meliputi: apa, siapa, dan mana.
d.
Kata ganti penghubung, dalam bahasa Indonesia yaitu yang.
e.
Kata ganti taktentu, dalam bahasa Indonesia meliputi: siapa-siapa,
masing-masing, sesuatu, seseorang, para.
(2)
Substitusi merupakan hubungan gramatikal, lebih bersifat hubungan kata dan
makna. Substitusi dalam bahasa Indonesia dapat bersifat nominal, verbal,
klausal, dan campuran. Misalnya: satu, sama, seperti itu, sedemikian rupa,
demikian pula, melakukan hal yang sama.
(3)
Elipsis ialah peniadaan kata atau satuan lain yang wujud asalnya dapat
diramalkan dari konteks luar bahasa. Elipsis dapat pula dikatakan penggantian
nol (zero), sesuatu yang ada tetapi tidak diucapkan atau tidak dituliskan.
(4)
Konjungsi digunakan untuk menggunakan kata dengan kata, frasa dengan frasa,
klausa dengan klausa, atau paragraf dengan paragraf (Tarigan, 1987: 101).
Konjungsi dalam bahasa Indonesia dikelompokkan menjadi:
a. konjungsi adversatif
: tetapi, namun
b. konjungsi kausal : sebab,
karena
c. konjungsi koordinatif
: dan, atau
d. konjungsi korelatif :
entah, baik, maupun
e. konjungsi
subordinatif : meskipun, kalau, bahwa
f. konjungsi temporal :
sebelum, sesudah
(5)
Leksikal diperoleh dengan cara memilih kosakata yang serasi, misalnya
pengulangan kata yang sama, sinonim, antonim, hiponim. Ada beberapa cara untuk
mencapai aspek leksikal kohesi, antara lain:
a. pengulangan kata yang
sama : pemuda – pemuda
b. sinonim : pahlawan –
pejuang
c. antonim : putra –
putri
d. hiponim : angkutan
darat – kereta api, bis, mobil
b. Koherensi
Koherensi merupakan pengaturan secara rapi
kenyataan dan gagasan, fakta, dan ide menjadi suatu untaian yang logis sehingga
mudah memahami pesan yang dihubungkannya. Ada beberapa penanda
koherensi yang digunakan dalam penelitian ini, diantaranya penambahan (aditif),
rentetan (seri), keseluruhan ke sebagian, kelas ke anggota, penekanan,
perbandingan (komparasi), pertentangan (kontras), hasil (simpulan), contoh
(misal), kesejajaran (paralel), tempat (lokasi), dan waktu (kala).
a. Penambahan (aditif), penanda koherensi
yang bersifat aditif atau berupa penambahan antara lain: dan, juga,
selanjutnya, lagi pula, serta.
b. Rentetan (seri), penanda koherensi yang
berupa rentetan atau seria ialah pertama, kedua, …, berikut, kemudian,
selanjutnya, akhirnya.
c. Keseluruhan ke sebagian, yaitu pembicaraan
atau tulisan yang dimulai dari keseluruhan, baru kemudian beralih atau
memperkenalkan bagian-bagiannya.
d. Hasil (simpulan), yag dimaksud penanda
koherensi ini ialah kata atau frasa yang mengacu pada simpulan.
e. Contoh (misal), penanda koherensi ini
dapat berupa antara lain: umpamanya, misalnya, contohnya.[17]
Perbedaan
antara kohesi dan koherensi pada sesuatu yang terpadu atau yang
berpadu. Dalam kohesi, yang terpadu adalah unsur-unsur lahiriah
teks, termasuk struktur lahir (tata bahasa). Penggalan teks percakapan dua orang berikut
dapat dijadikan contoh. “Hei, apa kabar?” “Oh, kamu. Kabar baik. Tinggal di
mana? Masih di tempat yang dulu?” “Iya, di situlah saya tinggal sampai
sekarang.” Semua
unsur lahir dalam penggalan teks tersebut terpadu, baik secara leksikal maupun
gramatikal. Sementara itu, keberpaduan atau koherensi mengharuskan unsur-unsur
batinnya (makna, konsep, dan pengetahuan) saling berpadu. Misalnya, ujar “apa kabar” biasanya digunakan
oleh orang yang sudah saling kenal dan relative sudah agak lama tidak saling
jumpa. Pembicara pertama mengujarkannya kepada yang kedua dan yang kedua
menyambut dengan akrab dan mengisyaratkan pemahaman bahwa mereka sudah lama
tidak saling jumpa. Apa lagi, pengujar tersebut melanjutkan dengan ujaran
berikutnya, yang memperkuat tafsiran bahwa dia merasa sudah lama tidak jumpa
dengan pengujar pertama.[18]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Makna adalah gejala internal bahasa, tapi makna
itu juga terkait dengan gejala eksternal bahasa. Makna ujaran itu terbagi pula
dalam memahaminya, yaitu:
a. Makna Leksikal, dalam makna leksikal ini diujarkan terdapat kasus
yang harus dipahami, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman antara penutur
dengan pendengar, kasus-kasus tersebut adalah: kasus kesinoniman, kasus
keantoniman, kasus kehomoniman, kasus kehiponiman dan kehiperniman
b. Makna Gramatikal, baru ada kalau terjadi proses gramatikal seperti
afikasi, reduplikasi, komposisi atau kalimatisasi. Umpamanya dalam proses
gramatikal seperti afikasi, reduplikasi, komposisi atau kalimatisasi. Umpamanya
dalam proses afikasi prefiks ber- dengan dasar baju melahirkan makna gramatikal
“memakai baju”. .
c. Makna Kontekstual, Memahami makna leksikal dan gramatikal saja
belum cukup untuk dapat memahami makna suatu ujaran, sebab untuk memahami makna
suatu ujaran harus pula diketahui konteks dan tempat dari terjadinya ujaran
itu. Konteks ujaran itu dapat berupa konteks intrakalimat, antarkalimat, bidang
ujaran atau situasi ujaran.
d. Makna Kohesi dan Koherensi, istilah kohesi tersirat pengertian
kepaduan dan keutuhan. Adapun dalam koherensi tersirat pengertian pertalian atau
hubungan. Bila dikaitkan dengan aspek bentuk dan aspek makna bahasa, maka
kohesi merupakan aspek formal bahasa, sedangkan koherensi merupakan aspek
ujaran
B. Saran
a. Diharapkan kepada pembaca, agar makalah ini bisa dijadikan sebagai
pedoman dalam mata kuliah Psikolinguistik.
b. Dengan adanya makalah ini, agar para pembaca dapat mempraktikkan
makna ini dalam kehidupan sehari-hari, agar tidak terjadi kesalahpahaman
dalam berkomunikasi baik dari pihak penutur maupun pendengar.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik Kajian
Teoritik. Jakarta: PT. Rineka Cipta
http://susilo.adi.setyawan.student.fkip.uns.ac.id//aspek-makna-dalam-semantik-danketerkaitannya
– dengan – jenis -jenis - makna/, diakses tanggal 6 Mei 2010
http://tata-bahasa.110mb.com/Semantik.html, diakses tanggal 6 Mei 2010
http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&ct=res&cd=4&ved=&url=http%3A%2F%2Fcakrabuwana.files.wordpress.comwindakurniasari.doc&rct=j&q=pengertian+makna+ujaran+gramatikal, diakses
tanggal 6 Mei 2010
http://blogshinyocom.blogspot.com/2009/06/makalah-semantik-2-makna.html, diakses tanggal 6 Mei 2010
http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&ct=res&cd=9&ved=0CCAQFjAI&url=http%3A%2F%2Fwww.snapdrive.net%2Ffiles%2F606250%2FPerubahan%2520makna.doc&rct=j&q=pengertian+makna+kontekstual, diakses tanggal 6 Mei 2010
http://ardiyant.blogspot.com/2010/03/kohesi-dan-koherensi.html, diakses tanggal 6 Mei 2010
http://karangan-dhesy.blogspot.com/2008/04/kohesi-dan-koherensi-pada-iklan-layanan.html, diakses tanggal 6 Mei 2010
http://semriwing.wordpress.com/wacana/, diakses tanggal 6 Mei 2010
[1]http://susilo.adi.setyawan.student.fkip.uns.ac.id//aspek-makna-dalam-semantik-danketerkaitannya
– dengan – jenis -jenis - makna/, diakses tanggal 6 Mei 2010
[2] http://tata-bahasa.110mb.com/Semantik.html, diakses tanggal 6 Mei 2010
[3]http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&ct=res&cd=4&ved=&url=http%3A%2F%2Fcakrabuwana.files.wordpress.comwindakurniasari.doc&rct=j&q=pengertian+makna+ujaran+gramatikal, diakses
tanggal 6 Mei 2010
[4] Abdul Chaer, , Psikolinguistik
Kajian Teoritik, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2003), h 268-269
[5] Ibid
[6]Op. Cit, http://susilo.adi.setyawan.student.fkip
.uns.ac.id//aspek – makna – dalam – semantik – dan -
keterkaitannya-dengan-jenis-jenis-makna/, diakses tanggal 6 Mei 2010
[7] Abdul Chaer, Op. Cit, h
271-272
[8] Ibid, h 273-274
[9] http://blogshinyocom.blogspot.com/2009/06/makalah-semantik-2-makna.html, diakses tanggal 6 Mei 2010
[10] Abdul Chaer, Op. Cit, h 276
[11]http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&ct=res&cd=9&ved=0CCAQFjAI&url=http%3A%2F%2Fwww.snapdrive.net%2Ffiles%2F606250%2FPerubahan%2520makna.doc&rct=j&q=pengertian+makna+kontekstual, diakses tanggal 6 Mei 2010
[12] Op. Cit,
http://susilo.adi.setyawan.student.fkip .uns.ac.id/2009/04/12/aspek – makna –
dalam – semantik – dan - keterkaitannya-dengan-jenis-jenis-makna/, diakses
tanggal 6 Mei 2010
[13]Abdul Chaer, Op. Cit, h 277-278
[14] Ibid, h 279-285
[15]Ibid, h 285 287
[16] http://ardiyant.blogspot.com/2010/03/kohesi-dan-koherensi.html, diakses tanggal 6 Mei 2010
[17]http://karangan-dhesy.blogspot.com/2008/04/kohesi-dan-koherensi-pada-iklan-layanan.html, diakses tanggal 6 Mei 2010
[18] http://semriwing.wordpress.com/wacana/, diakses tanggal 6 Mei 2010
Aspek gramatikal terdiri atas pengacuan referensi,
penyulihan (substitusi), pelesapan (elipsis), perangkaian (konjungsi). Aspek
leksikal terdiri atas repetisi (pengulangan,) sinonimi (padan kata),
antonimi (lawan kata), hiponimi (hubungan atas-bawah)
Contoh Kalimat Gramatikal dan Leksikal
beserta Maknanya
Kata gramatikal dan leksikal, mungkin terdengar agak asing di
telinga kita. Maka dari itu, dalam artikel kali ini akan dijelaskan tentang makna,
pengertian, dan contoh kalimat gramatikal dan leksikal.
Kalimat
Gramatikal
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:
461), gramatikal diartikan sesuai dengan tata bahasa. Dimana makna katanya
mengalami proses afiksasi, reduplikasi, komposisi, atau kalimatisasi. Makna
dari gramatikal sendiri adalah kata yang berubah-ubah sesuai dengan konteks
(berkenaan dengan situasinya, yakni tempat, waktu, dan lingkungan penggunaan bahasa)
pemakainya.
Berdasarkan arti gramatikal di atas, maka kalimat gramatikal
adalah kalimat yang makna katanya berubah-ubah karena mengalami proses
pengimbuhan, pengulangan ataupun pemajemukan yang disesuaikan menurut
tata bahasa serta
terikat dengan konteks pemakainya.
Contoh
Kalimat Gramatikal
1. Minuman, minum-minum, peminum (makna gramatikal). Contoh :
o
Polisi menyita
beberapa peti minuman keras dari dalam toko itu.
o
Pagi, siang, malam,
kerjanya hanya duduk dan minum-minum saja.
o
Seluruh orang di
kampung ini tahu, kalau ia seorang peminum.
2. Rumah dinas, rumah duka, merumahkan, perumahan (makna
gramatikal). Contoh :
o
Sejak terpilih
menjadi bupati di kota lain, kini ia tinggal di rumah dinas.
o
Setiap hari rumah
duka itu tidak pernah sepi pengunjung.
o
Beberapa bulan
terakhir ini perusahaan telah merumahkan puluhan karyawannya.
o
Pemerintah tengah
gencar membangun perumahan untuk kalangan menengah ke bawah.
3. Ibu guru, keibuan, ibu-ibu (makna gramatikal). Contoh :
o
Wanita yang
berpapasan denganku di gerbang sekolah tadi pagi ternyata ibu guru baru kami.
o
Walaupun sudah
melahirkan dua anak, sikap keibuannya sedikitpun tak tampak.
o
Hari ini di
puskesmas terlihat ramai dengan kehadiran ibu-ibu PKK.
4. Makan-makan, makanan, makan siang (makna gramatikal). Contoh :
o
Gaji pertamanya
habis untuk makan-makan bersama teman-teman sekantornya.
o
Jangan
membuang-buang makanan, banyak saudara kita yang kelaparan di luar sana.
o
Setiap jam
istirahat, warteg menjadi pilihan tempat makan siangnya.
5. Mobil-mobilan, mobil ambulance, permobilan (makna gramtikal).
Contoh :
o
Adik menabung uang
jajannya untuk membelimobil-mobilan kesukaannya.
o
Korban kecelakaan
lalu lintas sore tadi sudah di bawa mobil ambulance ke rumah sakit terdekat.
o
Kakakku bercita-cita
ingin membuka permobilan sendiri saat lulus kuliah nanti.
Kalimat
Leksikal
Leksikal adalah makna yang bersifat tetap. Kata leksikal,
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 805) adalah berkaitan dengan kata,
leksem, atau kosa kata. Leksikal (leksem), juga berarti makna yang sesungguhnya
atau sebenarnya.
Kalimat leksikal adalah kalimat yang makna kata yang sebenarnya
bersifat tetap dan tidak terikat dengan konteks kalimatnya (berdiri sendiri).
Contoh
Kalimat Leksikal
1. Setiap bangun tidur, ibu menyuruhku minum segelas air putih
hangat. (minum=makna leksikal)
2. Akhir pekan kali ini kami sekeluarga menghabiskan waktu di
rumah. (rumah=makna leksikal)
3. sejak kecil, ia sudah kehilangan sosok seorang ibu. (ibu=makna
leksikal)
4. Lihat! Baru jam 8.00 pagi, ia sudah makan tiga kali.
(makan=makna leksikal)
5. Ayah terlambat tiba di kantor pagi tadi, karena mobilnya mogok.
(mobil=makna leksikal)
Artikel bahasa lainnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar